Laman web

Minggu, 03 April 2011

Meluruskan Balaghah ala Kritikus Hadits sebagai Jawaban "Mengapa Takut Bid'ah?"



Inilah satu lagi babak dari serial sepak terjang para pendekar pembela bid’ah dan khurafat, membawa bendera bertuliskan balaghoh. Pembelaan yang memang begitu luar biasa untuk tetap mempertahankan eksistensi kebiasaan dan tradisi yang memang telah mereka tabur dan semai sejak dulu, dan memang menjadi sesuatu yang turun temurun.
Berikut penuturan dari mereka:...

Bid`ah - KH A.N. Nuril Huda
Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda: “Setiap perkara baru adalah bid’ah”.
Menurut para ulama, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).
Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:
بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
“Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).
Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;
اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ
فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.
Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :
نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.
Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.
مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حسنة فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.
Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَ كُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.
Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.
Mari kita kembali kepada hadits:-
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَ كُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.
Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:
حذف الصفة على الموصوف
“membuang sifat dari benda yang bersifat”.
Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر
“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.
(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Menjawab”, diterbitkan oleh PP LDNU)
Posted by Abu Muhammad at 9:12 PM
Diambil dari sumber :BAHRUS SHOFA
Abu sayev berkata:
Sebelum kita mengupas kerancuan saudara Nurul Huda dalam pemahaman Bid’ah menurut ilmu balaghah, tidak ada salahnya kita mencoba menerapkan dahulu kaidah teori balghah darinya untuk kasus yang lain:
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا
بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ
(2:159)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.
Kaidah balaghah yang dipakai oleh saudara Nurul Huda untuk memahami hadist Rasulullah seperti apa yang telah dibahas di atas akan mendapat satu konsekuensi dimana, dalam sebuah kasus yang memiliki konteks pemaknaan yang sama, maka balaghah dapat diberlakukan untuk memahaminya.
Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 159, kita akan menemukan kontek pemaknaan lafadz yang sama dengan pembahasan hadist tentang bid’ah yang menjadi pokok pembahasan. Marilah kita bersama-sama mengupas makna ayat tersebut dengan pemahaman nyleneh saudara Nurul Huda, yaitu melalui ilmu balaghahnya
Mereka itu dilaknati Allah dan………, Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allahi turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab.
Dalam ilmu balaghah saudara Nurul Huda, Mereka itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam ayat di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:
“membuang sifat dari benda yang bersifat”.
Seandainya kita tulis sifat Mereka maka terjadi dua kemungkinan:
*Kemungkinan pertama
Mereka yang baik itu dilaknati Allah dan………
Dilaknati Allah berarti memiliki sifat terlaknat.
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan terlaknat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil, karenanya (dengan kaidah membuang sifat terlaknat dari benda yang bersifat baik) berarti Mereka yang baik
*Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
Mereka yang jelek itu dilaknati Allah dan………
Dilaknat Allah berarti memiliki sifat terlaknat.
Hal inilah yang mungkin terjadi, karena sifat jelek dan terlaknat akan berkumpul menjadi satu benda dalam waktu dan tempat yang sama
jadi kesimpulan dari apa yang dipaparkan diatas bahwa menurut ilmu balaghah saudara Nurul Huda “orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab” hanya yang bersifat jelek yang akan dilaknat Allah.
Sedangkan:
“orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab” yang bersifat baik tidak mendapat laknat Allah.
NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK, bagaimana seorang yang belum sempurna dalam pemahaman ilmu tata bahasa. Mengaku ahli kemudian dengan gagah berani bersikap bagaikan ulama mengotak-atik hadist yang sebenarnya telah jalas pemaknaannya.
Marilah kita menengok sisi kerancuan dari pemahaman balaghah dari saudara Nurul Huda dan bagaimana seharusnya memahami secara lurus.
Dia mengatakan:
Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:
“membuang sifat dari benda yang bersifat”.
Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.
Pembahasan:
Kerancuan hal tersebuat adalah:
saudara Nurul Huda memasukan sifat baru benda yang sebelumnya telah dijelaskan sifatnya, untuk kemudian menghilangkan sifat awal yang telah jelas itu, apabila itu berlawanan dengan sifat baru yang dimasukannya
sebagai contoh:
semua orang musyrik adalah kafir , saudara Nurul Huda memasukkan dua kemungkinan sifat baru dari orang musyrik yang telah dijelaskan sifatnya yaitu kafir, kemudian membuang sifat kafir apabila sifat baru yang dimasukan kepada orang musyrik ternyata bertentangan dengan sifat kafir tersebut.
Menjadi:
semua orang musyrik yang baik adalah kafir dengan menghilangkan sifat kafir.
Menggunakan pemahaman balaghah secara lurus:
Kalau semua mau jujur seandainyapun menggunakan balaghah untuk menyifati makna dari Hadist tersebut tentunya tidak akan menimbulkan kerancuan pemaknaan apabila jalan yang ditempuh adalah lurus.
Seperti apa yang dikatakan Saudara Nurul Huda pada pembahasannya bahwa bid’ah disyifati dengan dua kemungkinan, berarti diantara dua kemungkinan tadi harus ada yang terbuang atau dihilangkan karena tidak mungkin satu benda memiliki dua sifat yang berlawanan dalam satu tempat dan waktu.
Jadi berdasarkan pemahaman tersebut:
“membuang sifat dari benda yang bersifat”.
Kemungkinan pertama:
“Semua bid’ah (kemungkinan pertama: baik) sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang harus dihilangkan adalah kemungkinan sifat baru yang dimasukkan yaitu kemungkinan sifat baik artinya tidak mungkin bid’ah bersifat baik karena sebelumnya telah disyifati sesat
yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
“Semua bid’ah (kemungkinan kedua: jelek ) itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.
Jadi kita mensyifati bid’ah adalah jelek karena sebelumnya telah disyifati dengan sesat
UNTUK MEMBUKTIKAN KAIDAH BALAGHAH TERSEBUT GUNAKAN DALAM KASUS DENGAN KONTEK PEMAKNAAN YANG SAMA, NISCAYA KALIAN AKAN MENEMUKAN SEBUAH KEBENARAN.
kesimpulan dari semuanya
BAHWA TIDAK ADA BID’AH HASANAH DALAM PERKARA INI, SEPERTI YANG DIPAPARKAN BAIK DARI SISI BALAGHAH SEKALIPUN.
Ditulis oleh abusayev
Disimpan di bid'ah dikata sunnah
catatan pada penulis "Abusayev", ana izin share

1 komentar:

  1. Tolong dikupas tentang hadist ini juga Syekh !!!

    “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

    BalasHapus

Bismillah. wahai saudaraku ana tunggu kritik dan sarannya. jazakallahu khair